Sehangat mentari lagi selembut sutra saat jiwa meresapi Kedalaman hati ~ kasih (calon) ibu. Dan pecahlah sepi memburai oleh keriangan tari yang hanya sanggup disenandungkan oleh rindu yang merdeka. Tak selamanyalah sepi akan berakhir sunyi. Wanita , perjuangan serta dedikasi adalah tempat bersemayamnya muara kebaikan yang tulus. Maka tak salahlah ia bila menjadi satu tema sentral nan agung dalam mencatat gairah serta semangat belajar-mengajar minggu ini.
Pukul 13:10 , Nisa , Mita dan Vina berjalan beriringan memasuki halaman. Ada satu wajah baru menyapa mereka. Kak Mira , begitulah ia memperkenalkan dirinya sekaligus menjadi pembuka acara kegiatan hari ini. Sang waktu yang kerap berdetak seakan menjadi saksi keakraban yang cepat terjalin diantara mereka. Senyum pun merekah menjadi tawa.
Pukul 14:00. Kedatangan Kak Rini semakin mewarnai kesan di hati adik-adik. Terutama , Mita. Kehadiran kakak-kakak ini laksana obat penawar rindu kesepian terdalam akan cinta dan hangatnya kasih sayang seorang ibu yang tak pernah pupus dimakan zaman , dimana secara tragedi telah pergi menutup mata , meninggalkan dirinya tertatih untuk selama-lamanya.
Tema 'WANITA' kali ini kian disempurnakan oleh Nisa ketika ia membacakan puisinya :
Raden Ajeng kartini
Bagai lilin menyala dalam gelap semesta
Kau terangi kaum wanita Indonesia
Melawan nasib yang tiada nyawa arahnya
Bagai kunang-kunang berkelip dalam kelam
Kau sinari cuaca , hitam legam
Nasib kaum wanita nan terhina
Tertinggal jauh nan disana
Kartini , bagaikan bintang kejora
Kau menyinari langit kelabu udara beku
Cahaya juangmu membimbing bangsa melangkah maju
Meski jauh jalan berliku penuh batu
Atas penjajahan yang menutup langit harapan
Kau lawan dengan tangan tanpa bosan
Hari demi hari kau habiskan sepanjang hidupmu
Untuk kebangkitan jiwa seluruh bangsamu
Kartini yang agung
Penyuluh kemajuan pendorong kebangkitan
Kuntum bunga pujaan nusantara
Juangmu berpatri dalam sejarah bangsa
Sosok Kartini seakan menjadi simbol kekuatan abadi perjuangan kaum wanita. Berbekal kehangatan , keikhlasan serta kesabaran ia memancarkan pelangi kebaikan. Sekalipun siang ini tak ada hujan , namun ada pelangi yang terlukis pada pintu hati wanita-wanita ini. Ruang kecil pun dapat menjadi semarak dengan pelajaran berhitung , mengeja , merangkai kata puitis serta bernyanyi atau melagu.
Pukul 16:30 , Kak Siti datang berkunjung disaat kami tengah menyiapkan dana santunan rutin bulanan untuk adik-adik binaan yang yatim , piatu , yatim-piatu dan kaum dhuafa bersumberkan sumbangan para donatur , kawan serta sahabat tercinta. Dan hampir serupa sebagaimana hari-hari sebelumnya.....mulai bermunculanlah satu per satu adik-adik di sore hari : Windi , Salsa , satu adik baru yang bernama Ida kemudian Nurlela. Sebagian besar dari mereka umumnya ingin meminjam buku , namun adapula yang mengembalikan buku yang telah selesai dibacanya , lalu meminjam kembali buku yang lain.
Selepas Ba'da Maghrib berangkatlah kami berempat ke rumah salah satu tokoh (sesepuh) guna mengumpulkan adik-adik binaan di rumahnya untuk menyampaikan dana amanah santunan rutin bulanan yang telah dipercayakan kepada kami oleh para donatur. Pada kesempatan ini kami sampaikan pula hasil evaluasi berdasarkan tingkat keaktifan serta penilaian kami akan progres belajar adik-adik.(Silvi , Ian , Fatmah dan Diki) dengan harapan mereka dapat terus memacu semangat belajarnya bukan dikarenakan (termotivasi) oleh dana santunan semata , namun sejatinya demi pengkayaan pengetahuan dari banyaknya bacaan yang mereka serap serta latihan menulis yang telah mereka biasakan.

Kemudian kami mengunjungi rumah Maryam , yang lebih suka dipanggil dengan nama Odoy. Kondisi rumahnya yang memprihatinkan membuat kami berfikir untuk mempertimbangkan Odoy tak hanya masuk dalam kriteria yatim , namun juga kaum dhuafa. Pembicaraan kami dengan mereka (Odoy dan Ibunya) berlangsung hangat dan penuh keakraban. Manakala mengetahui sang ibu suka membaca dan menulis - dengan sangat terbuka kami mengundangnya agar tak perlu segan-segan datang meminjam buku. Ada pancaran cahaya semangat membaca lagi potensi menulis yang kami temukan dalam dirinya. (Rangkaian kata yang ia toreh pada dinding tembok rumah merekalah yang menjadi ukiran prasasti bisu , bahwa setiap goresan kata keluar dari hati yang terselubung oleh bahasa kalbu) Sekalipun ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga sehari-harinya , namun kecintaannya akan membaca dan menulis tak mudah tercampakkan begitu saja !
Malam yang kian menggelap......membuat kami membatalkan kunjungan selanjutnya , yaitu memberikan santunan untuk janda lanjut usia yang terkena stroke. Ia yang sering hidup sendiri harus bersusah payah menyeret irama langkah kakinya menyambut datangnya setiap lembaran hari baru. Serangan dahsyat itupun menyulitkannya untuk berkomunikasi. Hanya kata-kata terpatah tanpa kejelasan arti yang mungkin didengar. Semoga segala kemudahan kebaikan kiranya dapat tercurah kepadanya , dan kepada kami - teman , lagi sahabat doonatur agar dapat diberikan pula berbagai sumber kekuatan untuk menyantuninya secara rutin per bulan sekalipun dalam nilai yang masih relatif kecil. Bersabarlah Bik Minah.......
Dicumbui oleh teduhnya tatapan dewi malam , diakhirilah kegiatan rutin kami pada minggu ini ketika sang waktu memasuki bilangan pukul 20. Sinar redup lampu jalanan menyinari hangat kedalaman hati............teruntukmu para kartini.
Update Senin , [11.10.2010]
Sore hari , di atas pukul 17 seakan menjadi sesi kedua kegiatan RBCI , khususnya aktivitas perpustakaan. Adik-adik seringkali muncul dan datang di muka pintu silih berganti untuk meminjam buku. Begitu pula yang terjadi senin sore ini :
Nurlela , Bella , Prasti , Windi , Salsa , bahkan Nisa yang selalu diikuti pengawal cilik setianya Mita , ditambah dengan 2 adik baru : Rafa dan Jihan.......begitu meramaikan ruang kecil kami. Mereka dengan riangnya meminjam buku dan kemudian bertanya : 'Kak , aku dapat tugas apa nih?' Senang rasanya mengetahui perkembangan perilaku mereka. Seakan telah tumbuh dan terbentuk sebuah budaya baru akan hadirnya 'Rumah Baca dan Belajar : Cahaya Ilmu , Tunas Bangsa , Cinta Ibu Pertiwi' dalam pola aktivitas kehidupan mereka. Kami pun bahkan dihadiahi sebuah gambar hasil karya Bella yang dititipi kepada Nurlela untuk diserahkan kepada kami.
Terimakasih kami ucapkan atas waktu , tenaga dan pikiran yang telah kalian curahkan dalam sebentuk cipta karya dan rasa adik-adik tersayang....

Karya Perdana Bella - Kelas 6 SD untuk 'Rumah Baca dan Belajar : Cahaya Ilmu , Tunas Bangsa , Cinta Ibu Pertiwi' Disinergikan dengan karya puisi Nisa - Kelas 5 SD : ~ Bekerja ~ Lama nian berpangku tangan Asyik terlena di dauh ombak Mari kita sama serentak Atur barisan kejar tujuan Jangan berhenti bertanya bulan Berapa purnama engkau merantau Maju gembira terus berjalan Cari cahaya indah kemilau Bagai lidi satu ikatan Bersatu teguh bercerai rapuh Bagai semut menarik beban Tiada henti sebelum sampai Ah teman cerdik-cendekia Kita hidup di abad perjuangan Siapa sigap majulah dia Tiada hasil berpangku tangan ~ Bangunlah , O , Pemuda ~ Gempita suara atas angkasa Waktu kebangunan tanah tercinta Bangunlah Pemuda , Saudaraku sayang Dengarlah nyanyian girang gemirang Marilah saudara berbimbingan tangan Mengayun langkah pulang ke taman Bersinar cahaya di ufuk timur Tanda bangsaku bangun tidur Insaflah Saudara Pemuda Bangsaku Mari berbakti kepada ibu Gunakan ketika selagi ada Berbuat juga semasa muda Ombak berdesir lagunya merdu Ditingkah kasidah alunan bayu Bangkitlah Pemuda , Saudaraku Sebangsa Dengarlah Panggilan Tanah Tercinta .:. Terimakasih kami sampaikan kepada teman , sahabat dan para donatur semoga amal ibadah kita semua dapat menghantarkan mereka menjadi insan-insan yang berhasil dalam meniti masa depan yang cerah serta berguna lagi bermanfaat bagi nusa , bangsa dan negara. Amien...