Layaknya syair kehidupan , ada hitam dan putih. Sisihkan ruang sejenak untuk kebaikan , maka terpendarlah riang di wajah mereka. 'Ketika kita mati, jangan cari pusara kita di bumi, tetapi carilah di hati manusia.* Bait-bait inilah yang sekiranya akan membantu kami menguraikan isi kegiatan minggu ini. Terlebih dipicu oleh kehadiran puluhan buku-buku baru , donasi dari Kak Siti dan Mba Wie yang kian membakar lagi menggelorakan semangat adik-adik untuk terus belajar serta berkarya.
Pukul 12:45 , ke dua ruangan masih belum dibersihkan setelah sabtu sebelumnya Nurlela , Bella , Abih , Rizki dan Erni meminta untuk diajarkan berhitung menggunakan metode baru (cara cepat) , menulis serta belajar membaca. Semakin mendekati pukul 13 , adik-adik mulai menyemut di depan ruangan. Bahkan Deni yang baru mulai bergabung belajar minggu lalu , turut membawa teman-temannya. Kembali , 3 wajah baru (Angga , Erik dan Puji) mengunjungi Rumah Baca dan Belajar kami.
Seolah berlomba dengan sang waktu mulailah kami berbagi tugas. Langkah pertama membersihkan ruang sebelah , disusul kemudian dengan Ruang Utama. Pukul 13:15 kegiatan mingguan dapat dimulai di ruangan sebelah terlebih dahulu dipandu oleh Kak Rini yang tengah diuji kepiawaiannya dalam membimbing 19 orang adik-adik (baik yang baru maupun lama). Pukul 14 ruang utama dapat digunakan dan sekumpulan tanaman cabe hias telah disiram dengan pupuk organik cair.
Penggunaan ruang dibagi berdasarkan materi belajar. Ruang utama digunakan untuk belajar membaca dan menulis : Riski , Mita , Vina , Abih , Erni , Izul , Abit , Diki dan Silvi. Sementara ruang sebelah dibanjiri oleh para peminat berhitung (matematika dasar) dengan menggunakan metode barunya Prof. Yohanes Surya Ph. D yang mulai populer diminati oleh adik-adik Rumah Baca dan Belajar : Cahaya Ilmu , Tunas Bangsa , Cinta Ibu Pertiwi (RBCI) , diantaranya : Nurlela dan Deni. Amel pun kembali datang. Bahkan adik-adik yang berpotensi dalam kelompok menulis lanjutan dan menggambar , seperti : Nisa , Sasha , Bella dan Yuni malu tapi mau turut menggandrungi dan kian asik tenggelam mengikuti materi serta latihan soal yang diujikan. Ditambah dengan 3 wajah baru : Angga , Erik dan Puji.
Tidak seragamnya tingkat pemahaman serta perbedaan kemampuan menalar dalam menyerap ilmu dan materi yang diajarkan membuat kami tak dapat melangkah jauh lebih cepat. Dengan sabar dan tanpa segan kami perlu mengulang-ulangi kembali materi-materi dasar dengan tujuan untuk membentuk satu pondasi pemahaman yang kuat. Terlebih kepada adik-adik baru yang seakan terus datang berkunjung tanpa henti. Tentulah kami sangat menghargai dan menjunjung tinggi semangat serta kebulatan tekad belajar mereka untuk maju , menjadi lebih pandai.
Konsep Rumah Baca dan Belajar , meskipun terkesan sederhana namun ia dapat menjadi satu solusi dalam upaya mencerdaskan bangsa. Karena ia tidak berorientasi uang atau materi. Namun lebih kepada kualitas transfer ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang efektif. Seandainya saja berbagai macam akumulasi ilmu pengetahuan dan ketrampilan masyarakat dapat terdistribusikan secara meluas lagi merata , tentunya produktivitas bangsa ini akan meningkat. Itu sebab dibutuhkan sebuah gerakan solidaritas masal dan masif dari masyarakat , oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Ibarat bola salju , bilamana ia telah meluncur bergulir maka akan cenderung membesar dan berdaya dorong kuat. Sebuah energi raksasa positif tak mustahil untuk tercipta yang sejatinya dapat digunakan untuk membangun kembali pilar-pilar kemasyarakatan yang lebih bermoral dan bernuansa keilmuan. Merekatkan kembali nilai-nilai kepedulian dan kemanusiaan serta mengharmoniskan kembali hubungan antar makhluk Tuhan (manusia , hewan , tumbuhan dan alam lingkungan). Mungkin ini adalah sebuah mimpi , namun kami anggap ia adalah cita dan asa yang patut diperjuangkan.
Pukul 16 , adik-adik di ruangan utama sudah dipulangkan. Kelompok berhitung (matematika dasar) terbagi menjadi 2 group. Group satu terdiri dari mereka yang telah dapat mengikuti materi penjumlahan metode baru (Nurlela , Amel , Bella , Yuni , Nisa , Sasha , Deni dan adik baru Angga). Sementara group dua yang terdiri dari wajah-wajah baru : Erik dan Puji hanya diberikan topik dasar angka pasangan serta penjumlahan 1-10. Pembahasan materi pada group satu mengulangi variasi soal yang sangat sederhana , penjumlahan 1 digit tersusun ke bawah atau kesamping dengan sistem coret. Hal ini dilakukan untuk menyeragamkan level pemahaman antar adik yang teridentifikasi masih adanya kesenjangan yang cukup lebar.
Adanya donasi puluhan buku-buku baru dari Kak Siti dan Mba wie , membuat kami mengakhiri kelas berhitung pada pukul 16:30 dan memindahkan adik-adik ke ruang utama. Terlihat riang menjalar memenuhi ruang , kala binar terpancar penuh dari mata dan paras adik-adik menyaksikan kedatangan buku-buku baru yang masih rapih dan anggun. Paket buku dari Kak Siti yang masih terbungkus sampul putih menciptakan satu momen kebahagiaan tersendiri minggu ini. Terutama saat perwakilan dari adik-adik membuka langsung kertas putih tersebut dan menemukan kumpulan buku-buku bercover indah dengan judul menarik serta menawan hati mereka. Mungkin kata sulit terucap , namun jelas tersirat satu semangat baru mengalir deras. Betapa kehadiran buku-buku baru masih menjadi satu kemewahan tersendiri bagi mereka !
Setelah merasa cukup menyampaikan berita gembira , diiringi dengan puji syukur kehadirat Allah SWT berikut ucapan terimakasih kepada kakak-kakak donatur acara kami lanjutkan ke dalam momen apresiasi. Dimulai dengan Nisa membacakan puisi tentang kesedihan , ditinggal mati oleh kedua orang tua. Kami pilihkan salah satu puisinya :
Sedih
Menangis di dalam hati
Sedih karena orang yang kita cintai
Ditinggal pergi untuk selamanya kini
Membuat sakit diri sendiri
Menangis hanya di dalam hati
Kini tinggal ridho ilahi
Yang menghampiri diri
Untuk membuat semangat lagi
Mengapa orang yang kusayang selalu meninggalkanku sendirian
Tersakiti untuk yang ke dua kali
Kapan aku bisa merasakan kebahagiaanku lagi
Kebahagiaan yang dulu pernah aku alami.
Suasana hening seketika......jeda pun menganga......
Sasha menulis :
Guru
Guru adalah orang yang berjasa
Mengajarkan murid-muridnya
Sampai pintar
Dan guru tak akan pernah mengenal kata lelah
Walau peluh mendera
Guru juga bisa dianggap
Sebagai Pahlawan
Pahlawan yang berjasa
Demi anak-anak Indonesia
Kelompok menggambar lalu maju menunjukkan karyanya.
Gambar by Yuni
Gambar by Bella
Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 17. Acara ditutup dengan pembacaan doa dipimpin oleh Nurlela. Sebelum mereka pulang , kami kabarkan kepada mereka bahwa akan ada satu kakak baru , Kak Ellis yang akan datang berkunjung. Bagi adik yang masih ingin belajar - dapat pulang terlebih dahulu , meminta izin kepada orang tua untuk datang kembali. Hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit sebelum mereka berkumpul kembali : Bella , Nurlela , Yuni , Amel , Sasha dan Nisa. Rupanya telah tumbuh kecintaan dalam diri mereka atas Rumah Baca dan Belajar ini. Sebuah ruang milik bersama , yang perlu dijaga serta dipelihara bersama pula. Sembari menunggu Kak Ellis , adik-adik mulai sibuk merapihkan Ruang Utama.
Pukul 17:30 Kak Ellis datang. Vina kecil yang tengah bermain diluar , ikut masuk berkenalan. Kali ini ruang sebelah difungsikan sebagai tempat untuk berkumpul dan beramah tamah serta belajar hingga pukul 19. Ini merupakan kali pertamanya kami memanjangkan jam operasional RBCI untuk adik-adik tercinta. Tak berapa lama kemudian , gelap gulita menerkam. Mati lampu ! Kematian pada satu sisi , justru menghidupkan sisi yang lain. Begitulah momen yang terekam. Ada satu ikatan emosional yang mulai terjalin erat antara kakak dan adik penghuni Rumah Baca dan Belajar. Sebuah ikatan tulus yang memendekkan jarak lagi mendekatkan hati. Semoga ia menjadi cahaya kebaikan yang tak kan kunjung padam. Kami tutup catatan kegiatan minggu ini dengan mengutip kembali kalimat bijak di atas :
''Ketika kita mati, jangan cari pusara kita di bumi, tetapi carilah di hati manusia.'
Note :
* Tulisandi batu nisan Jalaluddin Rumi