Bagaikan angin menyampaikan rindu kepada awan , mungkin serupa itulah berita yang kami terima dari Ibu nya Vina pada sabtu sore saat beliau mengembalikan Majalah Preventiondengan sebuah pesan : 'Kak , besok (minggu siang) ada adik-adik baru yang akan turut belajar di perpus ya , sudah saya sampaikan kepada mereka.' Tanpa perlu menunggu waktu 1x24 jam , betapa dapat kami saksikan secara langsung efektivitas kehebatan 'mouth to mouth marketing' dalam bentuk yang paling sederhana. Belum lagi sang waktu bergulir - tepat menunjukkan pukul 13 , terlihatlah kerumunan adik-adik baru menunggu kami membukakan pintu Rumah Baca dan Belajar : Cahaya Ilmu , Tunas Bangsa , Cinta Ibu Pertiwi.
Maka penuh sesaklah ruangan mungil kami dipadati oleh 19 jiwa tunas-tunas bangsa. Lutut bertemu lutut , tak jarang sikut beradu lutut seakan riang memahami arti segala kesederhanaan dan keterbatasan yang tengah melingkupi. Namun , disanalah berkumpul desakan semangat belajar yang kan teruji. Berbekal buku dan alat tulis , secara perlahan namun pasti lautan ilmu kan mereka sebrangi. Kuatkanlah Tuhan !
Kembali melalui catatan yang ke empat ini , seakan tak pernah habis ungkapan puji syukur kehadirat kebaikan Nur ilahi yang terpancar nyata pada hati-hati umatNya yang telah rela dan ikhlas membagikan sebagian rezkinya dalam bentuk donasi uang tunai , baik itu untuk dana santunan adik-adik : yatim , piatu , yatim-piatu & kaum dhuafa (insya allah dapat kami salurkan rutin setiap bulannya) maupun sumbangan berupa buku dan pakaian bekas layak pakai - terlebih dana donasi guna penambahan inventaris demi kenyamanan proses belajar-mengajar serta dana strategis pengembangan program ke depannya agar kian lebih bermanfaat dirasa oleh segenap masyarakat luas. Kepada teman , sahabat dan rekan-rekan Pasca PAU UI , Mba Win dan Mba Wie semoga Ridho dan karunia Allah SWT yang Maha Luas selalu tercurah kepada kita semua. Amien.
Kegiatan minggu siang ini dibuka dan dibimbing oleh Mba Rini. Kedatangan adik-adik baru (diberikan keterangan kelas disebelah kanan namanya) dapat dikelompokkan (berdasarkan teman sepermainan) , sbb :
a) kelompok Salsa (Kelas 3 SD) : Windi (Kelas 5 SD) , Rahma (Kelas 4 SD) dan Prasti (Kelas 5 SD)
b) Kelompok Nisa. Ia membawa teman barunya Sasha (Kelas 1 SMP) dan tentu saja si kecil Mita (adiknya ~ usia 6 Tahun)
c) Kelompok Silvi : Maryam atau Odoy , Fatmah , Ian , Adi (sepupu Ian kelas 3 SD) dan tambahan Raja (Kelas 4 SD)
d) Kelompok Amelia (Kelas 6 SD) , Bella (Kelas 6 SD) , Nurlela (Kelas 3 SD) dan adiknya Erni (Kelas 1 SD)
e) Kelompok Independen : Riski (Kelas 1 SD) , Vina (usia 5 Tahun)
Cukup banyak diantara mereka yang masih sulit untuk membaca dan berhitung , seperti : Vina , Erni , Riski , Adi dan Mita sehingga materi pengenalan huruf abjad / alfabet serta pemahaman angka yang paling mendasar pun kami rasa perlu untuk diajarkan. Tanpa alat peraga , kreativitas menjadi sumber tumpuan utama proses penyampaian !
Bukanlah pekerjaan yang mudah untuk membagi waktu serta mencurahkan seluruh perhatian kepada kehadiran 19 adik-adik tercinta. Sekalipun kami sangat kewalahan , namun ada satu kata kunci pemicu semangat : 'Belajar' , sebagaimana mengutip puisi karya Nisa :
Belajar
Walau perut terasa lapar
Walau letih kian menghampar
Namun ku harus belajar
Agar aku semakin pintar
Aku adalah anak sekolah
Aku harus belajar di rumah / di sekolah
Walau sakit kian mengarah
Aku harus belajar tanpa rasa lelah
Sungguh ku ingin menjadi pintar
Aku harus tetap belajar
Walau pagi , siang , sore atau malam
Akan kuterjang demi belajar
Kehadiran puisi Nisa ibarat bunga penghias hari-hari kami. Simaklah juga puisinya yang berjudul 'Terima Kasihku' yang telah direvisinya.
Terima Kasihku
Tiada lagi yang bisa ku ucapkan
Hanya satu untuk kalian
Terima kasih untuk kakak-kakak pembimbing kami
Yang telah mengajarkan kami , walau hujan panas dan apapun itu
Aku ini mewakili teman-temanku
Mengucapkan terimakasih untukmu
Berterimakasih hanya sekedar lewat puisi
Selembar puisi yang tiada artinya , dari apa
Yang telah kalian lakukan untuk kami
Supaya kami lebih giat belajar lagi
Supaya kami lebih pintar lagi
Belajar di hari libur sekolah ini
Membuat kami tidak bermalas-malasan lagi
Sekali lagi kuucapkan terimaksih , terimakasih dan terimakasih
Untuk kalian dan untuk semua
Selembar puisilah yang telah membantuku
Mengucapkan terimakasih untukmu
Belajarlah Annisa , belajarlah yang giat dan lebih giat lagi.....satu kepuasan yang teramat besar bagi kami , kakak-kakakmu dan para donatur bila dapat melihat kalian berhasil..........menjadi insan yang pandai , bermoral , bermanfaat untuk keluarga , masyarakat dan negara. Buatlah kami bangga dan selalu dapat tersenyum , mewarisi kalian tunas-tunas bangsa memperbaiki nasib ibu pertiwi. Jadilah figur yang mampu memberikan terang bagi sesama. Ibarat 'lilin' yang mampu memberikan cahaya disekitarnya.
Mencari serta menemukan minat , bakat dan potensi dirii adik-adik binaan merupakan salah satu upaya intensif yang akan terus kami galakkan , karena ia laksana proses pencaharian mutiara yang terpendam. Ada getar-getar halus berirama khusus yang terpancar dari tulisan-tulisan mereka. Seakan aura murni nan lugu tengah mencari-cari jalan keluar untuk dapat tampil ke permukaan , menggeliat untuk menghebat ! Amien..........mudahkanlah mereka Ya Tuhan....
Sebagai seorang adik yang baru pertama kali menginjakkan kaki di 'Rumah Baca dan Belajar : Cahaya Ilmu' - singkatnya atau RBCI -, merupakan satu indikasi yang cukup menyenangkan manakala mengetahui Sasha dapat mengikuti arahan untuk turut membiasakan diri mengikuti kegiatan menulis yang tengah kami tradisikan di tempat yang masih teramat sederhana ini. Ia dapat menyerap materi yang diberikan dan cukup mampu mengutarakannya melalui kata-kata :
Keadaan Perpustakaan
Pada siang hari ini , hari minggu aku dan teman-temanku pergi ke perpustakaan. Disana aku belajar dengan teman-temanku dan juga kakak-kakakku. Aku belajar tentang manfaat buku. Manfaat buku itu banyak sekali. Aku juga belajar tentang jendela dunia.
Yang dimaksud tentang jendela dunia itu adalah kita membaca sama saja membuka jendela. Yaitu kita membuka jendela , kan melihat pemandangan dan kalau kita membuka buku sama saja kita melihat bacaan yang kita baca.
Diperpustakaan itu merasa senang dan dapat mengenal teman-teman yang belum aku kenal. Perpustakaan itu tempat belajar , sama saja dengan sekolah. Disanalah aku belajar - tempat yang aku sebut itu adalah sekolah dan perpustakaan.
Saling berbagi walau hanya sedikit - akan terus kami lakukan , setidaknya sebulan sekali atau lebih disesuai kemampuan dan partisipasi. Bentuknya pun dapat beraneka macam , baik itu sekedar kue , maupun pakaian bekas layak pakai. Melihat senyum mereka saat tengah menikmati kebersamaan adalah lukisan hidup yang menggairahkan.
Donasi pakaian bekas layak pakai tanggal 25.09.2010
Pada beberapa kesempatan , tak jarang kami mencoba untuk menstimulasi bakat , rasa percaya diri serta tingkat keberanian mereka dalam membacakan hasil tulisan mereka sebelum kegiatan mingguan diakhiri. Tengoklah Ian yang tengah berpantun seakan ingin bersaing dengan puisinya Nisa.
Ada satu informasi menarik yang kami temukan dari tulisan Bella.
Hobby Ku
Hobbyku menggambar karena aku ingin mencapai cita-citaku , yaitu menjadi pelukis. Kalau cita-citaku tercapai , saya ingin membahagiakan orang tua. Saya kalau menggambar di sekolah , saya suka menggambar pemandangan , pegunungan dan rumah. Saya sangat senang karena menyenangkan. Saya menggambar dengan teman-teman saya yang bernama Sati , Amelia , Novi dan Salnah di sekolahan.
Menggambarlah Bella , tanpa ragu dan malu........seandainya kami mendapati sebentuk keindahan dalam karyamu - doakanlah kami agar kiranya mampu untuk dapat menyediakan alat menggambar dan melukis sesuai kebutuhan bakatmu. Dan Berkaryalah engkau dengan segenap karuniamu....
Langit mulai beranjak mendung ketika Kak Rini membuka sesi belajar menyampul buku. Beberapa adik binaan yang terpilih minggu ini (Nisa , Sasha , Mitha , Bella dan Amelia) berkesempatan untuk berlatih mempraktekkan secara langsung menyampuli buku yang akan mereka pinjam untuk dibawa pulang.
Selang tak lama kemudian , terlihatlah Rizki , Nurlaela dan Erni yang sudah berganti baju kembali mengunjungi kami. Ini merupakan kali pertama pula mereka mengunjungi Rumah Baca dan Belajar kami. Namun sore itu seakan luruh , tak ada lagi jarak yang memisahkan kekakuan dan keterasingan diantara kami. Sungguh , betapa indah apabila kedekatan semacam ini dapat tumbuh subur diantara kita saat berinteraksi dengan sesama. Sebuah ikatan kuat yang tulus , dilandasi oleh rasa hormat-menghormati dan saling menghargai dalam segala bentuk kebaikan.
Kemudian langit memekik , menumpahkan kandungan air hujan dengan derasnya. Maka ditutuplah aktivitas-kegiatan kami di minggu sore ini dengan pekik riang-gempita adik-adik binaan seakan ingin menyuarakan harmonisasi tari penyambut hujan :)