Waktu menunjukkan pukul 13:07 ketika samar terdengar suara langkah kaki memasuki halaman pagar kontrakan. Diatas kepala , Sang surya begitu galak menyengat kulit seakan ingin menguji seberapa kuat niat lagi semangat yang tertanam didalam hati kami masing-masing. 3 paras wajah familiar menyunggingkan senyum kedekatan. Mengapa 3 , apakah bilangan ini sebuah kebetulan? Fatmah mewakili kriteria adik binaan yatim , Diki piatu , sementara Silvi kaum dhuafa.
Lantai belum lagi mengering saat mereka melongokkan kepala, melihat apa isi didalam ruangan yang mungkin begitu menggelayuti pojok pikir benak kepala mereka. Ditempat inilah kami akan memulai aktivitas rutin mingguan untuk duduk , belajar dan bercerita bersama tentang berbagai hal. Membaca , Menulis dan Bercerita , itulah 3 hal mendasar yang akan kami coba bangun dan jadikan kebiasaan mingguan pada sebuah ruang yang dilabeli : Rumah Baca dan Belajar : Cahaya Ilmu , Tunas Bangsa , Cinta Ibu Pertiwi , sebagai bagian dari Gerakan Solidaritas Sosial Pendidikan dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat.
Ketika ditanyakan kabar tentang tugas menulis yang telah kami mulai berikan minggu lalu , respon dari Silvi begitu positif , sekalipun pada saat itu ia tidak membawa buku tugasnya. Dengan sigap bahkan ia siap mengulangi kembali perjalanan pulang guna menunjukkan hasil kerjanya selama seminggu. Spontan sebuah rasa bahagia dan bangga menjalar , meresap dikedalaman hati tanpa diundang. Pijar semangat juang , sekalipun ia masih kecil kan sanggup membesar dalam gelembung kata POTENSI. Inikah bibit yang tengah kami cari dan layak untuk dibina serta kembangkan ke depannya? Semoga.
Sembari mengantarkan Silvi mengambil buku tugas menulis rutin (tanpa diduga ia turut membawa pula perlengkapan belajar (alat tulis dalam sebuah tas angkut kecil) dirumahnya yang tidak begitu jauh , Fatmah dan Diki kecil menyibukkan diri menatapi muka lantai yang masih basah akibat sapuan pel dan sesekali melayangkan pandang ke area sekeliling bangunan. Tanpa perlu mengkonsumsi waktu lebih banyak , sampailah kami kembali dalam satu ruang kebersamaan. Mungkin ini adalah salah satu manfaat positif yang segera dirasa saat menimbang dalam memilih lokasi perpustakaan mini yang cenderung untuk mendekatkan diri kepada tempat tinggal adik-adik binaan.
Kegiatan kita hari ini dimulai dengan mempersilahkan adik-adik binaan untuk memilih sebuah buku yang paling mereka sukai. Masih sedikit dan begitu terbatasnya koleksi buku donasi dari para donatur dan simpatisan yang sevisi terhadap jalannya program Gerakan Kesadaran Kolektif ini , membuat mereka lebih memilih buku bernuansa agama. Fatmah yang mendapatkan subsidi sekolah gratis level tsanawiyah kelas 2 terpaku pada judul : Al-qur'an bercerita soal wanita , sementara Silvi tenggelam dalam pilihan : 120 Kunci Surga / Doa-doa Muslim berdasarkan hadis Rasul / kartun Wall disney seri 4. Lucunya adalah Diki , pilihan pertama jatuh akan buku Biologi untuk SMA , kedua , buku berat yang berjudul Hidup Sebelum Mati , ketiga , 5 sekawannya Enyd Blyton : Sarjana Misterius dan terus berubah seiring dengan diajukannya buku2 baru lainnya. Tak sulit sebenarnya berinteraksi dengan Diki , siswa yang duduk di bangku sekolah kelas 5 SD ini, ketika diminta untuk membaca lantang tulisan Silvi , dalam kikuk dan sedikit tersipu malu ia mau melakukannya. Begitupula saat ia diarahkan untuk menulis , ia pun lalu berkonsentrasi dan mulai merangkai kata , sbb :
"Nama saya Diki. Saya suka bermain dan belajar. Saya suka bermain bola bersama teman-teman. Aku suka belajar agama. Aku paling suka bermain bersama teman-teman. Aku ingin punya cita-cita menjadi guru sekolah dan suka membaca buku dan aku setiap hari main sambil menunggu buka puasa. Kalau sudah buka aku menonton TV dulu sebelum tidur. Aku paling suka menonton TV si Bolang dan aku suka menonton si Unyil dan paginya aku pergi ke sekolah. Sayang tidak suka mata pelajaran Matematika dan aku paling suka bermain dengan adik sepupuku yang satu namanya Seli dan yang satu namanya Nabila. Aku paling suka kalau main sama adik Seli dan Nabila sama teman-teman dan saya puasanya sudah batal 2 kali karena sakit pusing dan batuk pilek. Selesai.'
Lama terlihat ia diam , terpejam dan akhirnya menyerah lelah. Tulisannya cukup rapih dan jelas terbaca. Ada rasa iba menerpa dikala mencoba untuk menempati posisi dirinya. Ditinggalkan oleh sang ibu tercinta dalam usia muda , pencurah segenap rasa kasih sayang mulia tanpa harap-berbalas tentulah bukan hal yang ringan lagi mudah dijalani. Betapa hidup terkadang sulit untuk ditawar. Seakan Tuhan memiliki segudang rencana tersembunyi akan roda perjalanan nasib setiap hambaNya , tak peduli ia kecil atau dewasa , miskin dan kaya , ada seperhelaian tipis benang pemisah untuk dapat mensyukuri nikmat diatas derita , suka dalam duka. Dan Betapa agung sebentuk ketabahan akan tercipta , menguji kualitas pendewasaan seseorang dalam bersikap dan berperilaku.
Pada pertemuan perdana ini , Maryani (Ian) tidak dapat datang. Penyebabnya serupa dengan minggu lalu , yaitu tuntutan kerja - menyampuli kado yang menjadi sumber penghasilan bulanannya. Tanpa Ian sebagai sahabat dekatnya , Fatmah menjadi begitu pemalu , sehingga ia tenggelam dalam kebisuan ditemani buku pilihannya.
Silvih Damayanti , perhatian kini tertuju kepada sebuah buku tugas (menulis rutin) yang menyatakan siapa si pemilik buku yang dimaksud. Halaman pertama mencatat dana santunan pertama yang telah kami berikan , tercantum disana tanggal 12 Agustus 2010. Bagus , rupanya daya ingat dan serap Silvi dalam menerima arahan dilaksanakan dengan tertib dan sesuai apa yang diharapkan. 5 lembar berikutnya menceritakan aktivitas hariannya mulai hari senin (16.08.2010) sampai dengan berlangsungnya kegiatan mingguan kita pukul 13 (pada catatan hari minggu - 29.08.2010 , baru ditulis 2 baris kalimat : 'Aku bangun sahur terus tidur lagi. bangun cuci sepatu , belajar terus beresin rumah , tidur terus sholat dzuhur).
Membaca lalu mengetahui aktivitas sehari-hari Silvi memberikan satu gambar utuh yang cukup informatif mengenai dunianya. Dibulan Ramadhan ini , ia bangun lebih awal untuk makan sahur dilanjutkan dengan sholat subuh dan olahraga bersama Maryam (adik binaan juga yang belum pernah mengobrol lama). Kemudian mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah. Di mesjid sekolah melaksanakan sholat duha , tadarus alqur'an , lalu belajar Matematika , Bahasa Indonesia , Fiqih dll. Sepulang sekolah sholat Zuhur dan tidur siang hingga pukul 16 sore. Lalu mandi , sholat Ashar dan menonton TV sembari menunggu waktu berbuka puasa . Setelah sholat magrib diselingi menonton TV menyambut datangnya Isya , membaca Al-qur'an dan tentunya kewajiban pokok , belajar. Selain itu ia juga harus pandai mengatur dan menyisihkan waktu sehari-hari bekerja membersihkan tumah , terutama membantu ibunya mencari nafkah , baik itu bekerja dengan orang lain sbg pembantu rumah tangga (cuci-gosok) , menjual kembang Ros (mawar) disela-sela waktu pulang sekolah hingga menjelang malam. Ya , didalam dunia kecilnya terdapat 3 aktivitas rutin : bermain , belajar dan bekerja , ya bekerja membantu sang ibu demi mencari nafkah kehidupan !
Bagaimana cara ia menulis , dapat disimak tulisannya ketika jatuh sakit (senin , 23.08.2010 – sabtu , 28.08.2010)
Senin , 23.08.2010
Bangun sahur , terus sholat , terus mandi. Habis itu berangkat sekolah. Sampai di sekolah aku sakit jadi aku puasa setengah hari , soalnya minum obat , jadi puasanya setengah hari. Terus aku tidur sampai jam 15 , bangun langsung tiduran lagi sambil nonton TV terus adzan magrib , sholat terus tidur.
Selasa , 24.08.2010
Aku bangun jam 3. Aku panas jadi aku nggak puasa. Terus aku nggak sekolah soalnya amandel aku kambuh. Aku tiduran ajah sampai jam 15. Bangun eh tidur lagi sampai magrib. Bangun , terus ke bidan Mariya. Kata dia amandel aku kambuh , terus di kasih obat. Habis dari situ pulang makan , minum obat , tidur sampai pagi.
Rabu , 25.08.2010
Aku bangun tidur tapi belum sekolah , belum puasa juga , orang aku masih sakit , aku nggak boleh puasa sampai 4 hari , soalnya obatnya belum habis jadi belum boleh puasa. Tapi walaupun aku nggak puasa aku ngga mau makan , paling makan kalau mau minum obat. Terus aku tidur lagi , terus bangun jam 15. Terus adzan magrib , minum obat , terus tidur deh.
Kamis , 26.08.2010
Aku bangun , minum obat terus mandi berangkat sekolah. Terus ke masjid sholat dhuha , terus belajar terus pulang sekolah. Terus ke tempat kerja mamah , terus disana aku tidur , bangun , pulang beresin rumah terus tiduran. Terus adzan ashar , mandi , terus jualan (kembang Ros yang diambil dari rumah teh Erod) sambil ngabuburit , terus main , terus adzan magrib , sholat , belajar , tidur deh.
Jumat , 27.08.2010
Aku bangun sahur , minum obat terus mandi berangkat sekolah. Terus belajar , terus pulang sekolah , tidur. Habis tidur , main , terus adzan zuhur , terus aku ke sekolahan ada santunan - katanya jam 2 , ta' taunya habis adzan ashar. Terus sholat , terus berangkat , santunannya jauh banget , aku muntah terus sampai adzan magrib. Terus buka bersama , sholat dulu baru makan. Terus pulang. Aku sampai rumah jam setengah 10 , terus tidur.
Sabtu , 28.08.2010
Bangun sahur tapi aku nggak sahur , cuma makan tahu 2 , terus tidur lagi. Bangun , mandi , sekolah. Sampai di sekolah sholat dhuha terus baca yasin , terus belajar. Habis belajar , pulang , terus main , terus tidur. Bangun Jam 4 langsung sholat , mandi , terus jualan sambil ngabuburit. Pulang magrib terus sholat , makan , terus nonton TV. Adzan Isya tidur.
Menilai Silvi secara cepat , terkesan ia adalah anak yang bersemangat , rajin dan komunikatif. Suatu modal yang cukup berharga untuk berkembang terlepas dari potensi yang dimiliki. Ketika dimintakan opini tertulisnya sehubungan dengan dibukanya Rumah Baca dan Belajar atau perpustakaan mini , ia menulis :
Dengan adanya perpustakaan ini aku bisa tambah rajin bacanya dan bisa menambah pengetahuan belajar. Terus mudah-mudahan tempatnya lebih lengkap lagi , ada buku-buku macam-macam lagi judulnya , pokoknya banyak deh , tapi sekarang rak bukunya baru ada 1 jadi bukunya belum begitu banyak.
Karena tempatnya kecil jadinya bukunya belum banyak , tapinya adem siih tempatnya. Dari jendelanya aku bisa liat pohon , ada pohon pisang , pohon duren , pohon rambutan , pohon pepaya dan masih banyak deh. Terus di depannya ada tukang warung. Kontrakannya masih kosong semua , cuma 1 doang yang baru diisi yang jadi perpustakaan. Kalau di depan panas , tapi kalau di dalam adem.
** Silvi adalah siswi Kelas 6 SD
Berdoalah Silvi , berdoalah yang khusyu........agar pintu-pintu langit membukakan berbagai macam kemudahan dan segudang sumber rezkinya yang tak terduga atas Gerakan Kesadaran Kolektif ini. Bersama kita berharap dan terus berupaya agar pohon-pohon kebaikan dapat menjulang tinggi di tanah pertiwi. Masa depan dan Nasib kita berbangsa-bertanah air ada pada uluran 'tangan-tangan' kebersamaan kita saat ini. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa tidak menutup mata , melainkan dapat tersenyum di keagungan jagad singgasana Nya nun jauh di sana , sembari berucap : 'Bekerjalah kamu sekalian dalam kebaikan dan ketulusan , niscaya akan Kami lapangkan dada atas Usahamu'.
Catatan mingguan ini , belumlah sempurna tanpa diakhiri dengan ucapan terima kasih atas donasi seorang sahabat yang berdomisili di Depok. Sebuah paket donasi lengkap (buku , pakaian dan uang santunan , terlampir dalam foto berikut) , insya allah akan kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk memperkaya variasi kegiatan minggu depan. Semoga segala kebaikan ini dapat melahirkan kebaikan-kebaikan lainnya dalam mengisi hari-hari kita ke depannya. Wassalam.
Donasi Buku , Pakaian dan Uang Santunan Untuk Adik-Adik Binaan : Yatim , Piatu & Kaum Dhuafa dari Seorang Kawan di Depok pada Hari Minggu , Tanggal 29 Agustus 2010. Semoga Allah SWT melipatgandakan pahala serta amal ibadahnya , memudahkan dalam segala hal dan urusan serta melapangkan rezkinya. Amien.